Artikel


DETEKSI DINI KANKER PARU

dr. I Gusti Ngurah Widiyawati, SpP, FISR

Pendahuluan

Kerabat paru, kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di dunia, mencapai hingga 13 persen dari semua diagnosis kanker. Selain itu, kanker paru juga menyebabkan 1/3 dari seluruh kematian akibat kanker pada laki-laki. Di Amerika Serikat, diperkirakan terdapat sekitar 213.380 kasus baru pada tahun 2007 dan 160.390 kematian akibat kanker paru. Berdasarkan data WHO, kanker paru merupakan jenis kanker terbanyak pada laki-laki di Indonesia, dan terbanyak kelima untuk semua jenis kanker pada perempuan. Kanker paru juga merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada lak-ilaki dan kedua pada perempuan.

Diperkirakan 1,7 juta orang meninggal setiap tahunnya karena kanker paru. Kanker paru merupakan jenis kanker dengan insiden tertinggi pada laki-laki di Indonesia. Di dunia, jumlah kematian kanker paru lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kematian akibat kanker payudara, kanker kolorektal, kanker prostat bahkan masih tinggi bila digabungkan. Dari seluruh jumlah kanker paru di Indonesia, 11,2 persen adalah perempuan. Rumah Sakit Umum Persahabatan sebagai pusat rujukan respirasi nasional yang juga pusat rujukan kanker paru, angka kunjungan pasien kanker paru meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu.

Ketika seseorang terkena kanker, termasuk kanker paru akan sangat besar dampaknya. Tak hanya bagi dirinya, namun juga keluarganya. Meninggalnya Sutopu Purwo Nugroho pada bulan Juli lalu akibat kanker paru menjadi satu kewaspadaan bagi kita. Sedini mungkin Anda harus mencegah dengan cara melakukan pemeriksaan rutin deteksi dini.

Golongan risiko tinggi kanker paru

Kelompok pasien dengan risiko tinggi kanker paru mencakup :

  • pasien usia >40 tahun dengan riwayat merokok ?30 tahun dan berhenti merokok

dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan

  • pasien ?50 tahun dengan riwayat merokok ?20 tahun dan terdapat minimal satu faktor risiko lainnya.

Faktor risiko kanker paru lainnya adalah pajanan radiasi, paparan okupasi terhadap bahan kimia karsinogenik, riwayat kanker pada pasien atau keluarga pasien, dan riwayat penyakit paru seperti PPOK atau fibrosis paru.

Gejala dan tanda

Keluhan dan gejala penyakit ini tidak spesifik, seperti batuk darah, batuk kronik, berat badan menurun dan gejala lain yang juga dapat dijumpai pada jenis penyakit paru lain. Gambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit paru lainnya, terdiri dari keluhan subyektif dan gejala obyektif. Dari anamnesis akan didapat keluhan utama dan perjalanan penyakit, serta faktor–faktor lain yang sering sangat membantu tegaknya diagnosis. Keluhan utama, dapat berupa :

• Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen)

• Batuk darah

• Sesak napas

• Suara serak

• Sakit dada

• Sulit / sakit menelan

• Benjolan di pangkal leher

• Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat

Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat di otak, pembesaran hepar atau patah tulang kaki.

Gejala dan keluhan yang tidak khas seperti :

  • Berat badan berkurang
  • Nafsu makan hilang
  • Demam hilang timbul
  • Sindrom paraneoplastik, seperti “Hypertrophic pulmonary osteoartheopathy”, trombosis vena perifer dan neuropatia.

Deteksi dini kanker paru

Penemuan dini penyakit ini berdasarkan keluhan saja jarang terjadi, biasanya keluhan yang ringan terjadi pada mereka yang telah memasuki stage II dan III. Di Indonesia kasus kanker paru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada stadium lanjut. Dengan rneningkatnya kesadaran masyarakat tentang penyakit ini, disertai dengan meningkatnya pengetahuan dokter dan peralatan diagnostik maka pendeteksian dini seharusnya dapat dilakukan.

Hingga saat ini belum ada metode skrining yang sesuai bagi kanker paru secara umum. Metode skrining yang telah direkomendasikan untuk deteksi kanker paru terbatas pada kelompok pasien risiko tinggi.  Pada pasien berisiko tinggi, dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang mendukung kecurigaan adanya keganasan pada paru-paru, dapat dilakukan pemeriksaan low-dose CT scan untuk skrining kanker paru setiap tahun, selama 3 tahun, namun tidak dilakukan pada pasien dengan komorbiditas berat lainnya. Pemeriksaan ini dapat mengurangi mortalitas akibat kanker paru hingga 20%. Pada pasien yang tidak memenuhi kriteria “kelompok risiko tinggi”, pemeriksaan low-dose CT scan tidak direkomendasikan. Selain itu, pada pasien yang tidak dapat menjalani terapi kanker paru akibat keterbatasan biaya atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, maka pemeriksaan ini tidak disarankan.

Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) deteksi dini kanker paru dapat dilakukan pada tiga kelompok, yaitu

  1. Kelompok risiko tinggi tanpa gejala
  2. Kelompok risiko tinggi dengan gejala batuk kronik, sesak napas, batuk darah atau penurunan berat badan
  • Kelompok bukan risiko tinggi dengan gejala batuk kronik, sesak napas, batuk darah atau penurunan berat badan

Alur deteksi dini kanker paru dapat dilihat di gambar 1.

Gambar 1. Alur deteksi dini kanker paru

Informasi terbaru seorang Doktor Biomedik dari FKUI, Dr. dr. Achmad Hudoyo, Sp.P(K) menemukan inovasi untuk mendeteksi dini kanker paru dengan mudah, yaitu melalui embusan napas.Ide penemuan ini berawal dari penelitian mengenai anjing pelacak yang mampu membedakan napas pasien penderita kanker paru dan yang bukan dengan keakuratan mencapai 93%. Beliau menyimpulkan bahwa ada zat tertentu yang hanya ada di napas para penderita kanker paru.

Cara mendeteksinya pun mudah, pasien diminta mengembuskan napasnya ke dalam balon karet untuk kemudian didinginkan dalam lemari es atau direndam dalam air es. Selanjutnya napas dalam balon karet tersebut disemprotkan ke kertas saring khusus untuk menyimpan materi genetik DNA. Berikutnya, kertas saring dikirim ke laboratorium biomolekular untuk melihat ada atau tidaknya gen yang mengalami proses metilasi. Dengan mengetahui gen yang mengalami metilasi di paru, dapat digunakan untuk mendeteksi potensi terjadinya kanker paru.

Prosedur diagnostik kanker paru

Kanker paru ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan pemeriksaan patologi anatomi. Pemeriksaan penunjang untuk kanker paru diantaranya:

1, Pemeriksaan radiologis seperti pemeriksaan foto ronsen, CT scan thoraks

2. Pemeriksaan khusus seperti bronkoskopi (gambar 2), Biopsi aspirasi jarum, Transbronchial Needle Aspiration (TBNA), Transbronchial Lung Biopsy (TBLB), Biopsi Transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB) (gambar 3), Biopsi lain, Torakoskopi medik, Sitologi sputum

Gambar 2. Pemeriksaan bronkoskopi

  • Pemeriksaan invasif lain .Pada kasus kasus yang rumit terkadang tindakan invasif seperti Torakoskopi dan tindakan bedah mediastinoskopi, torakoskopi, torakotomi eksplorasi dan biopsi paru terbuka dibutuhkan agar diagnosis dapat ditegakkan.

Gambar 3. Pemeriksaan biopsi transtorakal

4. Pemeriksaan lain

a. Petanda Tumor

Petanda tumor yang telah, seperti CEA, Cyfra21-1, NSE dan lainya tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis tetapi masih digunakan evaluasi hasil pengobatan.

b. Pemeriksaan biologi molekuler

Pemeriksaan biologi molekuler telah semakin berkembang, cara paling sederhana dapat menilai ekspresi beberapa gen atau produk gen yang terkait dengan kanker paru,seperti protein p53, bcl2, dan lainya. Manfaat utama dari pemeriksaan biologi molekuler adalah menentukan prognosis penyakit.

Daftar Pustaka :

  1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker Paru Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. PDPI 2013
  2. Hudoyo A, Wibawanto A,Lutfi A, et al. Panduan Penatalaksanaan Kanker Paru. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2016
  3. Andarini S. PDPI: Jumlah Penderita Kanker Paru Makin Meningkat. Available at https://www.ayobandung.com/read/2019/07/31/59274/pdpi-jumlah-penderita-kanker-paru-makin-meningkat
  4. Doktor UI Temukan Metode Deteksi Dini Kanker Paru Melalui Hembusan Napas.Available at https://www.ui.ac.id/doktor-ui-temukan-metode-deteksi-dini-kanker-paru-melalui-hembusan-napas/

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Akreditasi

Artikel

  • DETEKSI DINI KANKER PARU DETEKSI DINI KANKER PARU
    August 1st, 2019 by
    dr. I Gusti Ngurah Widiyawati, SpP, FISR Pendahuluan Kerabat paru, kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di dunia, mencapai hingga 13 persen dari semua diagnosis kanker. Selain itu, kanker paru