Artikel


EFUSI PLEURA, PENYEBAB DAN PENANGANANNYA

Penulis: Dr. dr. Lilik Lestari, SpRad (K) TR.

Efusi pleura merupakan penumpukan cairan tidak normal di dalam cavum pleura. Pleura merupakan membran yang memisahkan paru-paru dengan dinding dada bagian dalam. Cairan yang diproduksi pleura ini sebenarnya berfungsi sebagai pelumas yang membantu kelancaran pergerakan paru-paru ketika bernapas tanpa adanya friksi. Terbentuk efusi pleura disebabkan menumpuknya cairan di rongga pleura. Secara normal, cairan yang masuk rongga pleura diabsorbsi oleh pembuluh limfe di pleura visceral.
Penumpukan dan berlebihnya cairan pleura disebabkan produksi cairan yang meningkat, atau absorbsi cairan yang menurun di antara pleura pariental dan pleura viscerail. Pada keadaan normal cavum pleura hanya mengandung cairan sebanyak 10- 20 mililiter. Penumpukan ini bisa disebabkan karena beberapa kelainan penyakit infeksi dan kasus keganasan baik di paru maupun di luar organ paru. Akumulasi cairan di rongga pleura terjadi karena adanya hambatan drainase limfatik dari rongga pleura. Selain itu gagal jantung menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga transudasi cairan yang berlebih ke dalam rangga pleura. Penyebab lain adalah menurunnya tekanan osmotic plasma (misalnya hipoproteinemia) menjadikan transudasi carian berlebih. Adanya proses infeksi atau peradangan pada permukaan pleura dari rongga pleura, juga menyebabkan pecahnya membran kapiler sehingga memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat.
Ada dua jenis efusi pleura transudatif dan eksudatif. Efusi pleura transudat disebabkan oleh penyakit gagal jantung, sorosis, sindroma nefrotik. Hal ini disebabkan adanya peningkatan tekanan hidrostatik atau tekanan onkotik kapiler yang menurun. Efusi pleura eksudatif disebabkan oleh karena penyakit pneumonia, keganasan, emboli paru, infeksi virus, TB paru.
Efusi pleura eksudatif disebabkan karena peradangan pada pleura atau jaringan yang berdekatan dengan pleura. Efusi pleura eksudatif merupakan efusi pleura yang jenis cairannya adalah eksudat. Efusi pleura transudatif merupakan efusi pleura yang jenis cairannya adalah transudate. Empyema merupakan efusi pleura eksudatif yang mengandung mikroorganisme dalam jumlah banyak disertai dengan nanah. Mikroorganisme berupa bakteri, virus, mikropasma, mikrobacterium merupakan penyebab terjadinya infeksi.

Kasus efusi pleura yang disebabkan oleh penumkokus pneumonia hanya terdapat 5%, sifatnya jumlah cairannya sedikit dan sesaat.
Efusi pleura dibagi menjadi dua yaitu unilateral dan bilateral berdasarkan lokasi cairan. Efusi unilateral tidak mempunyai kaitan yang khusus dengan penyakit penyebabnya, sedangkan efusi pleura bilateral seringkali ditemukan pada penyakit kegagalan jantung kongestif, tuberkulosos, asites infark paru, lupus eritmatosis sistemik, sindroma nefrotik, dan tumor. Di Indonesia, kasus efusi pleura sebesar 80% disebabkan oleh penyakit tuberkulosis (TBC).
Manifestasi efusi pleura yang paling sering adalah timbulnya sesak nafas terutama saat berbaring, timbulnya nyeri dada pleuritis ketika benafas (pneumonia), demam menggigil, panas tinggi (kokus). Kondisi ini antara lain disebabkan paru-paru tidak bisa mengembang sempurna saat menarik nafas. Di samping sesak nafas, kebanyakan penderita efusi pleura mengalami batuk kering dan tidak berdahak maupun batuk berdahak (banyak riak).
Diagnosis
Cara mendiagnosis efusi pleura adalah melalui empat metode, yaitu pemeriksaan radiologi, biopsi pleura, pengukuran fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan foto thoraks ini diperlukan sebagai monitor atas intervensi yang telah diberikan pada keadaan keluhan klinis yang membalik. Akumulasi cairan pleura 300 mL bisa terlihat pada foto rontgen torak dengan proyeksi PA. Apabila pada foto torak proyeksi PA tidak tampak jelas, maka dapat dilakukan x photo thoraks dengan proyeksi lateral decubitus. Pemeriksaan radiologi konvensional bisa digunakan untuk pemeriksaan efusi pleura yang moderat dan efusi pleura yang luas. Untuk efusi pleura yang minimal, pemeriksaan secara klinis dengan USG lebih sensitif dibandingkan dengan X-photo thorax.

Gambar 1. Efusi Pleura Kiri
Sumber: Rasad (2014)

Biopso pleura berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura melalui biopsy jalur perkutaneus untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit. Selanjutnya pengukuran fungsi paru melalui pengukuran kapasitas vital, peningkatan rasio udara residual ke kapasitas total paru, dan penyakit pleura pada tuberkulosis kronis tingkat lanjut. Terakhir pemeriksaan laboratorium spesifik cairan pleura agar dapat mendeteksi kemungkinan penyebab dari efusi pleura.
Penanganan Efusi Pleura
Penanganan efusi pleura dilakukan dengan cara pengambilan cairan efusi pleura, atau yang sering disebut dengan tindakan fungsi pleura. Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, mengumpulkan specimen untuk analisis, dan menghilangkan dispnea.
Penanganan lain adalah memberikan obat-obatan sesuai dengan penyebab efusi pleura. Obat-obatan dimasukkan ke dalam ruang pleural untuk mengobliterasi ruang pleura dan mencegah penumpukan cairan lebih lanjut.
Kesimpulan
Efusi pleura merupakan istilah yang dipakai untuk menyatakan adanya penimbunan cairan dalam rangga pleura, berupa cairan jernih, transudate, eksudat atau dapat berupa darah Efusi pleura merupakan efek sekunder akibat penyakit lain seperti tuberkulosis, gagal jantung kongestif, tumor, dan lainnya. Dampak dari efusi pleura adalah sesak nafas, nyeri, batuk kering, maupun batuk berdahak. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan membuang cairan berlebih tersebut, serta pemberian obat-obatan sesuai penyakit yang menyebabkannya.

Referensi
Djojodibroto, D. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC.
Patel, P. R. 2005. Lecture Note Radiologi. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rasad, S. 2014. Tuberkulosis Paru. Terjemahan Radiology Diagnostic. Jakarta: RSCM.
Tobing, E. M. dan Widirahardjo. 2013. Karakteristik Penderita Efusi Pleura di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011. e-jurnal Fakultas Kedokteran USU, 1, 1-4.
Udin, M. F. 2019. Penyakit Respirasi pada Anak. Malang: UB Press.
Wiryansyah, O. A. 2017. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Efusi Pleura Di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2017. Jurnal Kesehatan dan Pembangunan, 9(17), 78-87.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.