Rumah Sakit Paru Dokter Ario Wirawan Salatiga

Artikel


PERADANGAN HIDUNG KARENA ALERGI

Kerabat paru, kadangkala kita menjumpai orang yang mudah sekali terkena pilek. Baru beberapa hari sembuh dari pileknya lalu kambuh lagi dalam waktu yang dekat, atau bahkan mengalami pilek sepanjang waktu. Barangkali orang tersebut mengalami peradangan hidung yang dikarenakan alergi.

Peradangan hidung karena alergi atau disebut sebagai rinitis alergi merupakan radang selaput lendir hidung  yang disebabkan oleh proses peradangan lapisan selaput lendir hidung yang dimediasi oleh hipersensitifitas / alergi tipe I, dengan gejala karakteristik berupa  hidung gatal, bersin-bersin, pilek dan hidung tersumbat yang bersifat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan.

 

Tahapan Rinitis Alergi

 

Kita tidak akan selalu berada pada lingkungan yang senantiasa bersih. Adakalanya kita berada pada lingkungan yang berdebu, lembab, banyak polutan dan alergen. Saluran napas kita akan selalu terpapar dengan berbagai macam alergen yang terbawa oleh udara pernapasan. Alergen merupakan partikel pembawa alergi. Pada penderita yang memiliki bakat alergi, alergen yang terbawa dapat menyebabkan sensitisasi selaput lendir saluran pernapasan. Awal mula terjadinya reaksi alergi ini dikenal sebagai fase sensitisasi. Dalam kondisi ini, selaput mukosa hidung sudah dalam keadaan sensitif. Selanjutnya, bila penderita menerima paparan alergen yang sama pada waktu berikutnya maka menimbulkan gejala alergi. Fase tersebut disebut sebagai fase elisitasi. Penderita rinitis alergi dapat berkembang menjadi keadaan hiperreaktifitas hidung terhadap iritan non spesifik seperti asap rokok, bau merangsang, udara dingin, polutan, bau parfum, dsb.

 

Penyebab

 

Rinitis alergi disebabkan karena adanya alergen yang masuk ke selaput lendir saluran pernapasan. Alergen bisa berasal dari jenis inhalan (yang dihirup) maupun dalam bentuk makanan. Bagaimanapun alergen inhalan lebih sering menyebabkan rinitis alergi. Alergen inhalan bisa berupa tungau debu rumah, jamur ruangan, dander (butiran/serpihan kulit yang kecil) dari hewan peliharaan, serbuk sari rumput-rumputan, kecoa, dll. Sedangkan alergen dari jenis makanan berupa telur, susu, gandum, udang, coklat, dll.

Tungau debu rumah

 

Gejala

 

Penderita dengan rinitis alergi akan mengalami bersin yang sangat sering hingga dapat mengalami lebih dari 5 kali bersin setiap kali serangan. Penderita akan merasa terganggu karena sering mengalami pilek dengan ingus yang bening dan encer, hingga seringkali menetes. Gangguan tidur maupun aktivitas sehari-hari juga seringkali dialami karena hidung yang tersumbat. Sumbatan hidung bisa menetap pada salah satu sisi hidung atau bergantian. Rasa tidak nyaman juga dirasakan pada hidung karena sering gatal sehingga cenderung sering menggosok-gosok hidung. Tidak hanya hidung saja yang mengalami gatal, tenggorok, langit-langit maupun telinga juga seringkali gatal. Jika penyakit memberat, fungsi penciuman dapat terganggu. Adanya lendir yang turun ke tenggorok dapat memicu batuk, jika berlangsung lama bisa menjadi batuk yang kronik. Tidak jarang muncul juga keluhan pada mata. Mata bisa menjadi gatal, berair dan merah bila terdapat paparan alergen.

 

Klasifikasi

 

Penyakit ini dapat sangat menurunkan kualitas hidup seseorang karena dapat mengganggu aktifitas sehari-hari, mengganggu pekerjaan karena bersin dan pilek yang terlalau sering, bahkan dapat mengganggu tidur. Frekuensi serangan serta beratnya penyakit sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup tersebut. Berat ringannya rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan frekuensi dan beratnya gejala.

 

Berdasarkan frekuensi :

  1. Rinitis Alergi Intermiten: kurang dari 4 hari/ minggu, atau bila kurang dari 4 minggu
  2. Rinitis Alergi Persisten: lebih dari 4 hari/minggu, dan bila lebih dari 4 minggu

Berdasarkan beratnya gejala :

  1. Ringan: tidak terdapat gangguan aktivitas.
  2. Sedang-berat: ada satu atau lebih hal-hal sebagai berikut: gangguan tidur, gangguan aktifitas sehari-hari/ olah raga, gangguan pekerjaan atau sekolah.

Perkembangan Rinitis Alergi

Reaksi alergi yang terus menerus dapat menyebabkan pembengkakan dari konka inferior / media yang diliputi cairan encer bening serta selaput lendir yang terlihat pucat. Bila fasilitas tersedia ada baiknya dilakukan endoskopi hidung untuk menilai adanya faktor lain yang dapat memperberat keluhan. Rinitis alergi yang memberat dapat berkembang menjadi sinusitis. Paparan bakteri ke dalam saluran pernapasan khususnya pada hidung dan sinus akan memicu terkumpulnya cairan kental pada rongga-rongga sinus. Penderita akan mengalami perubahan warna ingusnya menjadi lebih keruh bahkan kehijauan serta mengalami nyeri di sekitar wajah. Bila tidak segera diobati, hal ini juga dapat memicu perkembangan ke arah pertumbuhan polip, akibatnya hidung akan semakin tersumbat.

Penderita rinitis alergi memiliki kecenderungan terhadap penyakit asma. Penyakit ini merupakan tahap awal united airway disease yang bisa berkembang menjadi asma.Dari studi epidemiologi yang pernah dilakukan, ditemukan bahwa asma ditemukan pada sekitar 15-38% penderita rinitis alergi. Di sisi lain, pada penderita asma sendiri juga bisa didapati rinitis alergi. Prosentasenya bervariasi, berkisar antara 6% hingga 85%. Risiko adanya asma pada penderita rinitis alergi akan lebih besar pada penderita dengan derajat serangan persisten berat.

 

Pemeriksaan Penunjang

Ada beberapa pemeriksaan tambahan yang dapat mendukung diagnosis rinitis alergi. Pemeriksaan yang agak mudah dijangkau dan sering dilakukan adalah uji kulit (Uji tusuk / Prick test ). Pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan dan bisa dilakukan pada orang dewasa maupun anak-anak. Beberapa alergen akan di tes kan untuk mengetahui alergen mana saja yang menyebabkan reaksi alergi. Disamping itu ada pemeriksaan lainnya sebagai alternatif, yang menggunakan sampel darah yaitu pemeriksaan IgE serum spesifik.

 

Skin Prick Test

 

Pengobatan

Manajemen utama dari pengendalian alergi adalah eliminasi alergen. Menghindari paparan terhadap alergen merupakan upaya penanganan alergi yang utama. Seorang penderita alergi yang alergi terhadap tungau debu rumah misalkan, sebaiknya memperhatikan lingkungan rumahnya. Lingkungan yang lembab akan memudahkan tungau berkembang biak. Alergen berupa tungau juga kadang terkait dengan pekerjaan seseorang, misalnya pekerjaan yang memungkinkan paparan debu dari tumpukan buku atau kain.Setiap penderita harus mengamati faktor pemicu timbulnya gejala rinitis alergi yang sifatnya sangat individualis, tidak bisa disamakan pada seriap orang. Lingkungan rumah, tempat kerja, sekolah, kegemaran atau hobi dapat memprovokasi timbulnya gejala. Terapi pendukungnya berupa obat-obatan farmakologi berupa antihistamin, dekongestan hidunghingga imunoterapi.

 

Penulis : dr. Duhita Yassi,Sp.THT-KL ( RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga )

 

Sumber:

 

  • Brozek J et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) Guidelines, 2016 Revision
  • Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher, 2008

Gambar:

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Akreditasi

Artikel

  • CARA MENJAGA KESEHATAN PARU CARA MENJAGA KESEHATAN PARU
    March 4th, 2019 by
    Penulis: dr. Trisno Darma Putra RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga Kerabat paru, paru merupakan organ tubuh yang sangat penting dan tidak tergantikan untuk tubuh kita. Oleh karena itu menjaga