Rumah Sakit Paru Dokter Ario Wirawan Salatiga

Artikel


Upaya Mewujudkan Pelayanan Farmasi Berorientasi Pada Keselamatan Pasien

upayafarmasiberorientaspadakeselamatanpasien

Tujuan pengkajian farmakoterapi adalah mendapatkan luaran klinik yang dapat dipertanggungjawabkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan risiko minimal. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya perubahan paradigma pelayanan kefarmasian yang menuju ke arah pharmaceutical care. Fokus pelayanan kefarmasian bergeser dari kepedulian terhadap obat (drug oriented) menuju pelayanan optimal setiap individu pasien tentang penggunaan obat (patient oriented). Untuk mewujudkan pharmaceutical care dengan risiko yang minimal pada pasien dan petugas kesehatan perlu penerapan manajemen risiko.

Manajemen risiko adalah bagian yang mendasar dari tanggung jawab apoteker. Pesatnya perkembangan  teknologi farmasi yang menghasilkan obat-obat baru juga membutuhkan perhatian akan kemungkinan terjadinya risiko pada pasien. Penelitian Bates (JAMA, 1995, 274; 29-34) menunjukkan bahwa peringkat paling tinggi kesalahan pengobatan (medication error) pada tahap ordering (49%), diikuti tahap administration management (26%), pharmacy management (14%), transcribing (11%).

Laporan di atas telah menggerakkan sistem kesehatan dunia untuk merubah paradigma pelayanan kesehatan menuju keselamatan pasien (patient safety). Gerakan ini berdampak juga terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia melalui pembentukan KKPRS (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) pada tahun 2004.

Berdasarkan Laporan Peta Nasional Insiden Keselamatan Pasien (Konggres PERSI Sep 2007), kesalahan dalam pemberian obat menduduki peringkat pertama (24.8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan. Jika disimak lebih lanjut, dalam proses penggunaan obat yang meliputi prescribing, transcribing, dispensing dan administering, dispensing menduduki peringkat pertama.

Dengan demikian keselamatan pasien merupakan bagian penting dalam risiko pelayanan di rumah sa-kit selain risiko keuangan (financial risk), risiko properti (property risk), ri-siko tenaga profesi (professional risk) maupun risiko lingkungan (environ-ment risk) pelayanan dalam risiko manajemen.

Penggunaan obat rasional me-rupakan hal utama dari pela-yanan kefarmasian dan keselamatan   pasien menjadi    masalah yang  perlu  diper-hatikan. Dari data yang pernah dila-porkan disebutkan sejumlah    pasien mengalami   cedera atau  mengalami  insiden pada saat memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait peng-gunaan obat yang dikenal dengan medication error. Di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain-nya, kejadian medication error dapat dicegah jika melibatkan pelayanan farmasi klinik dari apoteker yang su-dah terlatih.

Peran apoteker dalam mewu-judkan keselamatan pasien melipu-ti dua aspek yaitu aspek manajemen dan aspek klinik. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan far-masi, pengadaan, penerimaan, pe-nyimpanan dan distribusi, alur pela-yanan, sistem pengendalian (misal-nya memanfaatkan IT). Sedangkan aspek klinik meliputi skrining per-mintaan obat (resep atau bebas), penyiapan obat dan obat khusus, penyerahan dan pemberian infor-masi obat, konseling, monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi.

Dalam buku Pedoman Tanggung Jawab Apoteker dalam Keselamatan Pasien (Direktorat Bina Komunitas dan Klinik, th 2008) apo-teker harus berperan di semua taha-pan proses yang meliputi:
1. Pemilihan

Pada tahap pemilihan perbe-kalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan dengan pengen-dalian jumlah item obat dan peng-gunaan obat sesuai formularium.

2. Pengadaan

Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efek-tif dan sesuai peraturan yang ber-laku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.

3. Penyimpanan

Hal-hal yang perlu diperhati-kan dalam penyimpanan untuk me-nurunkan kesalahan pengambilan obat dan menjamin mutu obat:

  • Menyimpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication names) secara ter-pisah.
  • Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan cedera jika terjadi kesalahan pen-gambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya: menyimpan cairan elektrolit pekat seperti KCl inj, heparin, warfarin, insu-lin, kemoterapi, narkotik opiat, neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan agonis ad-renergik. (Daftar lengkapnya dapat dilihat di www.ismp. org.) kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara alfa-betis, tetapi tempatkan secara terpisah.
  • Menyimpan obat sesuai dengan persyaratan penyim-panan.

4. Skrining Resep

Apoteker dapat berperan ny-ata dalam pencegahan terjadinya medication error melalui kolaborasi dengan dokter dan pasien,

  • Apoteker tidak boleh mem-buat asumsi pada saat melaku-kan interpretasi resep dokter. Untuk mengklarifikasi ketidak-tepatan atau ketidakjelasan re-sep, singkatan, hubungi dokter penulis resep.
  • Apoteker harus membuat ri-wayat/catatan pengobatan pasien.
  • Permintaan obat secara lisan hanya dapat dilayani dalam keadaan emergensi dan itupun harus dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan obat yang diminta benar, dengan mengeja nama obat serta me-mastikan dosisnya. Informasi obat yang penting harus di-berikan kepada petugas yang

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Akreditasi

Artikel